Selasa, 23 Juli 2019

Sebuah Persimpangan

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagiku segala luka kembali terbuka, segala beban tertumpuk, segala impian, segala kekhawatiran menyertai diri ini.

Tahun terakhir di perkuliahan sarjana menjadi tahun yang berat. Masalah pilihan pendidikan dan karier, masalah persahabatan, masalah perasaan. Semua permasalahan campur aduk bak gado-gado, menyelesaikannya membutuhkan waktu dan energi yang cukup banyak. Semua mengalir begitu saja, sebagai perempuan di usia 20 tahun-an aku harus bekerja lebih keras untuk merencanakan dan menentukan jalan hidup.
Kondisi dan lingkungan sekitar yang mungkin tak banyak dihiraukan banyak orang malah menjadi prioritasku. Aku acap kali mengalahkan egoku demi kepentingan orang lain. Payahnya orang lain tak menyadari bahwa aku berkorban banyak hal. Hidup ini memang penuh ujian, ujian yang diberikan Allah sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.

Aku bertanya pada diriku sendiri sebagai manusia "apakah diri ini belum manusiawi hingga ujian yang diberikan beruntun tanpa kenal waktu?".

Pertanyaan besar itu membawa kesimpulan bahwa aku harus terus memperbaiki diri. Memilih pilihan di berbagai simpangan harus kuputuskan dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Refleksi terhadap diri sendiri sangat dibutuhkan, logika harus tetap dibangun, namun tidak mengesampingkan perasaan (karena kodratnya perempuan memang begitu).

Apapun pilihan yang akan kupilih pada akhirnya aku pula yang akan menjalani. menyesali sesuatu itu wajar namun berdiam diri dan terpuruk dalam penyesalan bukanlah hal yang bijak. Aku tahu semua itu sulit tetapi harus tetap dijalani bukan?
Semoga catatan ini menjadi pengingat bagi diriku sendiri

Senin, 22 Juli 2019

"Aku tak tau pasti sejak kapan aku mulai menyukaimu, tapi yang pasti saat ini aku menyukaimu. Di sisi lain aku juga menyukainya sahabat SMA-ku."
Kalimatmu itu seketika membuatku terbang dan jatuh disaat yang bersamaan.
seketika aku bingung harus bagaimana, secara spontan aku langsung marah dan tak tahu harus bagaimana. Setelah berpikir beberapa saat aku memutuskan untuk tetap bertahan sebentar denganmu sembari menunggumu untuk memutuskan siapa yang berhak berada di hatimu.
Sepintas aku merasa bodoh, dungu, dan hilang akal.
Sepenting itukah dirimu untukku? sampai aku rela berada dalam hubungan tanpa status yang kehadirannya bak orang ketiga.
Banyak yang menyalahkanku akan semua kedunguan itu dan menyarankanku untuk melepaskanmu. Tapi, andai mereka tahu tidak semudah itu mencabut panah yang ada di hati ini dengan serta merta.
Aku mencoba mengingat betapa aku membenci seseorang di masa lalu karena aku berada di posisi yang sama dengan sahabatmu.
Apakah ini karma untukku? untuk aku yang terlalu membenci seseorang untuk lelaki yang tidak pantas ku perjuangkan di masa lalu.

Aku memutuskan untuk bersikap masa bodoh dan polos seakan tidak ada hal aneh terjadi. Aku mulai belajar untuk hidup dan mencintai dengan tulus tanpa mengharapkan apapun. Aku belajar bahwa suatu hubungan dapat berjalan apabila ada kemauan dari 2 belah pihak untuk mempertahankannya. Jika syarat itu tidak dapat dipenuhi niscaya hubungan yang dibangun akan kandas tak bersisa.

Mulai saat ini aku perlahan menurunkan harapanku terhadapmu, mengatur emosi dan perasaan agar ketika suatu saat nanti hal buruk terjadi pada kita. Aku tidak akan sakit menjadi-jadi. Aku mulai pasrah akan hubungan tanpa status ini. Walaupun aku berjuang sekuat tenaga semua bermuara padamu. Akankah kau akan mempertahankanku atau meninggalkanku.

Pada akhirnya sebagai manusia aku harus berserah diri pada-Nya. Ikhlas apapun yang menjadi kehendak-Nya. Karena ku tahu kehilanganmu tetap berbeda rasa dengan kehilangan ayah dan adikku untuk selamanya. Ayah dan adikku meninggalkan aku dengan perasaan yang sama yakni menyayangi dan mencintaiku sedangkan dirimu dapat dipastikan bila meninggalkanku dengan perasaan yang berbeda.

Dari Aku yang menyayangimu